Profil dan Kisah Cut Nyak Dhien, Pahlawan Nasional Wanita yang Menentang Kolonialisme Belanda

Berikut ini profil dan cerita kehidupan Cut Nyak Dhien, pahlawan nasional wanita asal Aceh yang menentang kolonialisme Belanda. Dikutip dari lamanresmi Pemerintah Aceh, pemerintah Indonesia mengangkat Cut Nyak Dhien sebagai pahlawan nasional melalui Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 106/TK/1964 pada tanggal 2 Mei 1964. Sebagai tokoh penting dalam sejarah Tanah Air, Cut Nyak Dhien kerap diabadikan dalam berbagai media.

Di antaranya berupa film yang berjudul Tjoet Nja’ Dhien, film ini disutradarai oleh Eros Djarot dan dirilis perdana pada 1988. Berikut ini profil Cut Nyak Dhien yang dikutip melalui laman Cut Nyak Dhien dilahirkan pada tahun 1848 di kampung Lam Padang Peukan Bada, Aceh Besar.

Cut Nyak Dhien merupakan seorang putri uleebalang yang berdarah pahlawan, Teuku Nanta Seutia. Uleebalang sendiri merupakan kepala pemerintah dalam kesultanan Aceh yang memimpin sebuah daerah atau sagoe, yaitu wilayah setingkat kabupaten dalam struktur pemerintahan Indonesia sekarang. Ibu Cut Nyak Dhien juga berasal dari keturunan bangsawan, putri seorang uleebalang terkemuka dari kemukiman Lampagar.

Sebagaimana lazimnya Putri bangsawan dan putri Aceh lainnya, sudah sejak kecil Cut Nyak Dhien memperoleh pendidikan, khususnya pendidikan agama. Pendidikan itu diberikan, baik oleh orang tuanya maupun oleh guru guru agama pada waktu itu. Sebagai seorang putri uleebalang , Cut Nyak Dhien terbawa dan terpengaruh oleh pola dan cara hidup bangsawan.

Oleh karena pengaruh didikan agama yang kuat, Cut Nyak Dhien memiliki sifat sifat yang tabah, lembut dan tawakal. Seperti lazimnya pada masyarakat bangsawan di Aceh, perjodohan antara sesama kerabat bangsawan menjadi hal yang lumrah. Di saat Cut Nyak Dhien menginjak 12 tahun, ia dijodohkan oleh orang tuanya dengan anak saudara laki laki dari pihak ibunya yang bernama Teuku Ibrahim.

Pasukan Teuku Nanta dan Teuku Chik Ibrahim yang bermaksud mempertahankan daerahnya akhirnya harus menyingkir akibat serangan dari Belanda yang dipimpin oleh Van Der Hayden. Akhirnya, daerah tersebut berhasil dikuasai oleh Belanda. Pada tanggal 29 Juni 1878 dalam suatu pertempuran di Lembah Beurandeun Gle' Taron , kemukiman Montasik, Teuku Ibrahim dan beberapa pengikutnya meninggal.

Oleh karena kekecewaan dan kesedihan akibat ditinggal suaminya, Cut Nyak Dhien berniat membalaskan dendamnya kepada Belanda. Setelah beberapa bulan menjanda, Cut Nyak Dhien dipinang oleh Teuku Umar yang kebetulan adalah cucu dari kakek Cut Nyak Dhien sendiri. Cut Nyak Dhien mulai ikut berperang pada tahun 1880 dengan suami keduanya, Teuku Umar.

Bersatunya dua kesatria ini mengobarkan kembali semangat juang rakyat Aceh. Setelah beberapa kali Cut Nyak Dhien, suami, dan pasukannya melakukan perlawanan, pada tanggal 30 September 1893 Teuku Umar beserta 250 orang pasukannya secara resmi menyatakan tunduk kepada gubenur Belanda di Kutaraja. Teuku Umar bersedia membantu Belanda untuk mengamankan Aceh.

Karena itu Pasukannya diberi perlengakapan yang cukup. Cara yang dilakukan oleh Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien digunakan untuk mempelajari taktik perang Belanda. Teuku Umar diangkat sebagai panglima dengan gelar Teuku Umar Johan Pahlawan .

Selama kurang lebih 3 tahun, Teuku Umar pada tanggal 29 Maret 1896 kembali membawa pasukannya untuk bergabung dengan pejuang Aceh beserta perlengkapan persenjataan pemberian Belanda. Mengetahui tindakan pengkhianatan yang dilakukan oleh Teuku Umar, Belanda mencabut jabatan sebagai panglima perang, gelar kebesaran "Johan Pahlawan" dan menyatakan perang terhadap Teuku Umar. Akhirnya, Teuku Umar beserta Cut Nyak Dhien pergi ke daerah Barat Aceh dan bertempur habis habisan melawan Belanda.

Nahas, saat perang yang terjadi pada 11 Februari 1899 membuat Teuku Umar tewas tertembak. Meski suaminya meninggal, Cut Nyak Dien lalu memimpin perlawanan Belanda di daerah pedalaman Meulaboh. Dengan kondisi Cut Nyak Dien semakin rentan. Matanya mulai rabun dan terkena encok, ditambah sumber makanan yang tidak pasti karena benar benar telah habis dan jumlah pasukan yang juga berkurang.

Kondisi itu membuat pasukannya iba dan salah satu anak buahnya melaporkan lokasi markasnya kepada Belanda. Dengan mudah Belanda menyerang markas Cut Nyak Dien di Beutong Le Sageu dan membuatnya terkejut. Mereka tetap berperang matia matian, tapi berhasil digagalkan oleh pasukan Belanda, Cut Nyak Dien pun akhirya tertangkap.

Setelah ditangkap Cut Nyak Dien kemudian dibawa ke Banda Aceh. Di Banda Aceh, Cut Nyak Dien sempat mendapatkan perawatan untuk penyakitnya. Bahkan penyakitnya, seperti rabun dan encok berangsur angsur sembuh.

Setelah ditangkap dan mendapatkan perawatan, Cut Nyak Dien selanjutnya diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat pada tahun 1907. Pengasingan tersebut dilakukan karena Van Daalen sebagai Gubernur Belanda di Kutaradja merasa ketakutan dan khawatir bahwa Cut Nyak Dhien dan rakyatnya dianggap kemungkinan masih bisa melakukan perlawanan. Pada 6 November 1908, Cut Nyak Dien meninggal karena usianya yang sudah tua.

Cut Nyak Dien dimakamkam di daerah pengasingan. Bahkan makam Cut Nyak Dien baru ditemukan pada 1959 Tokoh tokoh yang mendampingi perjuangan Cut Nyak Dhien

Tokoh tokoh tersebut diantaranya Teuku Ali Baet (menantunya), Sultan Muhammad Daud Syah dan Panglima Polim yang terus mengobarkan perang sabil di daerah Pidie.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Nasional

KPK Usut Penganggaran PMD oleh Banggar DPRD DKI Lewat Prasetyo Edi

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendalami proses penganggaran oleh Banggar DPRD DKI Jakarta terkait Penyertaan Modal Daerah (PMD) untuk Perusahaan Umum Daerah Pembangunan Sarana Jaya. Salah satu penggunaan PMD itu untuk pengadaan tanah di Munjul, Pondok Ranggon, Cipayung, Jakarta Timur yang berujung rasuah. Pengusutan itu dilakukan saat tim penyidik KPK memeriksa Ketua DPRD DKI Jakarta, Prasetyo […]

Read More
Nasional

Aturan Baru PPKM Jawa-Bali Level 3 & 2: Bioskop Dibuka, Anak di Bawah 12 Tahun Boleh Masuk Mal

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) wilayah Jawa Bali kembali diperpanjang selama dua pekan. PPKM Jawa Bali diperpanjang hingga 4 Oktober 2021 mendatang. Namun, pemerintah akan tetap melakukan evaluasi PPKM setiap minggunya. Hal ini disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves), Luhut Binsar Pandjaitan dalam keterangan pers virtual, Senin (20/9/2021). "Perubahan PPKM level […]

Read More
Nasional

PPKM Diperpanjang hingga 20 September 2021, Syarat Pelaku Perjalanan di Dalam Negeri Masih Sama

Kementerian Perhubungan menegaskan aturan terkait syarat pelaku perjalanan di dalam negeri tidak ada perubahan setelah penetapan perpanjangan masa pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) di Jawa dan Bali mulai 14 20 September 2021. "Dengan adanya perpanjangan masa PPKM hingga 20 September 2021 maka hingga saat ini aturan syarat pelaku perjalanan di dalam negeri tidak ada perubahan, […]

Read More